Minggu, 2008 November 30

Pulang ke Rumah


Rumah Masa Depan
Bukan di Kuburan

Oleh:
RHR Dodi Sarjana


Jika ingin bersendiri tanpa bersepi
Jika ingin hening di tengah bising yang mati
Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali
Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap
jawablah:
kepadamukah kumesti pergi?


SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas.
Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana?
Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu.
Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidup yang dijalin para orangtua menjadi dasar keceriaan atau keburaman kehidupan seseorang di masa depannya.
Dari rumah lah, masing-masing individu mulai mengguratkan tapak kehidupannya. Dari rumah lah bangunan cita-cita hidup mulai ditata. Dari rumah lah, rumah masa depan mulai dirancang tata desainnya.

Kemanapun aku pergi bayang-bayangMu mengejar
Bersembunyi dimanapun selalu Engkau temukan
aku merasa letih dan ingin sendiri
Kutanya pada siapa tak ada yg menjawab,
sebab semua peristiwa ada di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian
Aku mencari jawaban di laut
Kuseret langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan, menghentikan petualangan
Kemanapun aku pergi selalu kubawa-bawa
perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu kubuka
dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah…aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa
Aku ingin pulang
Aku harus pulang


Lewat lagunya, penyanyi Yogyakarta Ebiet G Ade, mendesahkan hatinya yang galau. Dia ingin dan harus pulang. Ke manakah harus pulang?
Dengan rasa bersalah, karena (barangkali) gagal dalam menentukan langkah, sang tokoh dalam lagu Ebiet sangsi bisa pulang dan masuk rumahnya.
Kesalahan yang dilakukan telah membuat kunci rumah (masa depannya) patah. Dosa yang dia rasakan membuatnya tak pantas masuk dalam dekapan Bapanya.
Pulang ke rumah, berarti meninggalkan jasad wadag di dunia. Jasad yang dipenuhi belatung dosa, sudah tentu tak layak dibawa pulang ke rumah. Dia harus ditinggal dan menjadi residu bagi dunia.
Namun masyaallah........ wadag kotor seperti yang saya punya ini ternyata juga tak layak diselimuti hangatnya tanah liat dunia.
Lebih baik dia dibakar menjadi abu ketika suatu saat di dalamnya sudah tidak ada kehidupan lagi. Dan biarkan angin membawanya bertebaran ke semua penjuru.
Dengan begitu anak-cucu keturunan tak perlu repot membersihkan makam. Cukuplah dikenang lewat doa saja. ***

(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)

Selasa, 2008 November 18

Cabul Temannya Porno




Mencabuli Dunia Pendidikan
Oleh: RHR Dodi Sarjana



Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru kencing berlari, murid kencing sambil menari.


COBALAH tengok Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan W.J.S. Poerwadarminta. Buka pada bagian huruf C, lalu cari kata-kata Cabul. Menurut kamus tersebut, Cabul artinya keji dan kotor (spt melanggar kesopanan); perbuatan yang buruk (melanggar kesusilaan); berbuat --, berbuat tidak senonoh (melanggar kesusilaan); gambar (bacaan) --, gambar (bacaan) yg melanggar kesusilaan; perempuan --, perempuan lacur:
Selesai!? Sekarang giliran buka Kamus Inggris Indonesia bikinan John M. Echols dan Hassan Shadily. Pada huruf P, carilah kata-kata Pornography kb. 1. kecabulan. 2 porno, gambar/bacaan cabul.
Dua kata tersebut, akhir-akhir ini begitu sering dipergunakan dalam kosa-kata di media. Tentu yang pertama menyangkut disahkannya RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Dan yang kedua, ini sangat memprihatinkan kita, seringnya kedua kata tersebut muncul dalam pembicaraan, karena akhir-akhir ini ternyata lagi marak aksi porno dan pencabulan.
Masyaallah! Aksi porno dan pencabulan yang tengah santer jadi pembicaraan orang beberapa hari terakhir ini, ternyata menyangkut sosok guru yang seharusnya digugu dan ditiru (dipatuhi dan dicontoh).
Si guru Erwin Ronaldo, di Tapanuli Tengah Sumatera Utara (Sumut), melakukan dosanya di depan murid-muridnya. Entah setan apa yang sedang merasuki otak Erwin, dengan teganya memaksa dua siswinya melakukan oral seks, di depan kelas.
Aksi guru sebuah sekolah di Riau, seolah melengkapi aksi buruk rekannya dari Sumut dalam mengikis nama baik guru di mata masyarakat kita. Bersama rekan-rekan "sepermainannya", dia melakukan aksi preman asmara terhadap pasangan muda-mudi yang tengah memadu kasih.
Mereka mengintip pasangan yang sedang berpacaran, lalu mengintimidasinya, menelanjangi mereka dan akhirnya memeras meminta uang. Ancamannya, jika mereka tidak memberikan uang, maka foto bugil pasangan tersebut akan disebarluaskan.
Duh...dunia nampaknya memang sedang dilanda sakit...!?
Erwin yang seharusnya memberikan teladan baik kepada siswanya, justru memberikan contoh bejat. Lalu, apa jadinya dengan peribahasa "guru kencing berdiri, murid kencing berlari"? Akankah semakin terealisasi? Kita bisa membayangkan betapa mengerikann akibat buruknya nanti.
Bayangan mengerikan akan kondisi bangsa ini pun makin mengental. Upaya pembatasan meluasnya aksi porno dengan menelorkan undang-undang antiporno sertinya hanya akan menembus ruang kosong belaka.
Pencabulan dan porno yang kelahirannya seumur dengan keberadaan manusia di bumi ini, bak penyakit menular yang tak gampang dibasmi. Ibarat menangani penyakit, keberadaan undang- undang anticabul dan porno, hanyalah mengobati saja. Bukan melakukan pencegahan sejak dini.
Memerangi pencabulan dan aksi porno akan sukses jika bertamengkan isu moral dan bersenjatakan budi pekerti. Dengan menanamkan budi pekerti sejak dini, baik lewat sekolah dasar maupun keluarga, penularan pencabulan dan porno aksi akan bisa dikikis.
Dua perilaku oknum guru di atas, sudah cukup membuktikan dan memberi gambaran betapa bangsa ini tengah menghadapi krisis kehidupan. Jika relung pendidikan sudah tercemari virus seperti itu, bagaimana dengan output yang dihasilkannya?
Sungguh kita membutuhkan guru yang bisa membimbing kita memahami secara utuh konteks kehidupan, baik lewat keberagaman kultur, etnis, dan agama. Kita merindukan sosok yang bisa merajut kembali nilai-nilai kesopanan dan budi pekerti yang berperikemanusiaan.
Ayo guru bangsa yang berada di dunia pendidikan, guru bangsa yang ada di dunia politik, di pemerintahan, dan di mana saja, kamu bisa memberi contoh yang lebih baik. Yes...you can!!

Pangeling-eling:
Cabul = Cacat Budi Luhur
Porno = Pikiran Orang Norak
(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)

Jumat, 2008 Oktober 31

Memilih Cara Kematian




Ajal yang Menakutkan
Oleh: RHR Dodi Sarjana


SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda?


MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan.
Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian).
Mati, sebenarnya bukanlah persoalan yang bisa diselesaikan oleh manusia. Namun karena ke- ndableg-an manusialah, mati bisa diubah menjadi bukan "takdir". Mati bisa ditentukan kapan saja waktunya lewat eksekusi mati.
Sudah banyak warga kita yang kehilangan nyawa lewat eksekusi mati. Kasus dekat nan "besar" yang akan digelar adalah eksekusi terhadap tiga sekawan Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, pelaku Bom Bali I yang menewaskan banyak nyawa tak berdosa.
Karena belum pernah merasakan perjalanan kematian, kalau diperbolehkan berargumen, barangkali saja kematian lewat jarum suntik (eutanasia) lebih tidak menyiksa dibandingkan eksekusi lewat cara lain. Terbayang proses pembiusan menjelang operasi. Setelah tertidur, barulah pesakitan disuntik racun. Beres. Hmmmm, apanya yang beres!!??
Bandingkan dengan hukuman mati yang harus dijalani Socrates dengan cara menegak langsung racun. Kasusnya mirip orang bunuh diri, yang diwarnai rasa sakit tak karuan karena usus tercabik-cabik "kuku" racun. Wadooh, wadooh, korban terkadang muntah darah.
Selama ini, yang umum dalam pelaksanaan hukuman mati ada tujuh (7) metode yang lazim ditempuh.
1. TEMBAK MATI: Penganut metode ini adalah Indonesia, Taiwan, Somalia, dan Cina. Regu tembak sekitar 7 orang. Tidak semua senapan berisi peluru, hanya tiga saja, yang lainnya kosong. Pasukan tidak diberitahu senapan siapa yang terisi untuk mngurangi beban psikologis sang eksekutor. DOR!
2. PANCUNG/PENGGAL: Pelaku metode ini negara Arab Saudi dan Irak. Konon cara ini juga tidak menimbulkan rasa sakit. Terpidana dipenggal lehernya dengan pedang atau memakai alat bantu khusus semacam guilotine. Guilotine banyak digunakan di Eropa dan negara-negara Islam sebelum abad ke-17. CRASS!
3. GANTUNG: Sering dilakukan di Mesir, Singapura, Iran, Jepang, Yordania, Pakistan, Malaysia. Terpidana berdiri di atas lantai kayu yang berengsel dan bisa terbuka seperti jendela. Leher terpidana dikalungi tali melingkar, lalu blak....jendela lantai dibuka, sehingga terpidana meluncur ke bawah dan terjerat lehernya. KLEGG!
4. SETRUM LISTRIK: Cara ini biasanya dilakukan oleh Amerika Serikat. Pesakitan didudukan di kursi, lalu tangan dan kakinya diikat, kepala diberi semacam helm. Penyetruman dilakukan bertahap; 4 menit pertama menggunakan tagangan 2.000 V, 7 menit berikutnya 1.000 V dan 2 menit terahir 208 V. Tak jarang terpidana menjadi gosong. JREEET!
5. SUNTIK MATI: Penganut cara ini diantaranya adalah Amerika Serikat, Thailand, Cina, Guatemalia, dan lain-lain. Terpidana disuntik kombinasi 3 zat mematikan. Sodium thiopenthal, sejenis obat tidur agar narapidana menjadi tak sadar diri. Pancuronium bromida, melumpuhkan otot perut dan paru-paru. Terakhir Potasium klorida untuk menghentikan fungsi jantung. MAK LESS.
6. RAJAM: Dilakukan oleh negara Afghanistan serta Irak. Terpidana disuruh berdiri di ujung suatu tempat lalu ditimpuki batu ramai-ramai. GEDEBUG GEDEBUG BUG!
7. KAMAR GAS: Dilakukan oleh beberapa negara di Eropa, diantaranya Jerman. Terpidana dimasukan ke suatu ruangan yang kedap udara. Lalu ke ruangan tersebut dialirkan gas hydrocianic yang mampu menghentikan kerja darah memproses hemoglobin. Klenger. WEEEEZZZ!
Sebenarnya masih banyak cara eksekusi yang bisa diusulkan lagi. Namun rasanya kok amat terlalu tidak berperikemanusiaan. Contohnya, terpidana ditenggelamkan saja di laut atau sungai, atau bisa juga kepalanya dibenamkan di bak mandi. BERRR KEJET-KEJET.
Atau terpidana dibekap mulutnya pakai bantal. Murah khan!? Hiii ngawur.
Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba yang telah berani melampaui kewenangan-MU ***

(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)

Selasa, 2008 September 23

Iiiihh Porno ...


Jangan Pernah Menyusui dalam Angkot
Oleh:
RHR Dodi Sarjana


KETIKA kita naik bus umum (zaman dulu) biasanya ada peringatan "Dilarang Mengeluarkan Anggota Badan". Maksudnya, saat bus berjalan jangan sampai kepala atau tangan penumpang terjulur keluar, bisa berabe. Kesenggol pohon di tepi jalan bisa mak...nyus. Untuk saat ini, peringatan itu bisa bermakna lain. Ibu-ibu yang membawa bayi dilarang menyusui di kendaraan umum. Anggota badannya yang dikeluarkan bisa disemprit UU Pornografi....he he he.


DPR RI akhirnya menunda pengesahan RUU Pornografi pada 23 September 2008. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dari RUU tersebut sebelum akhirnya harus diketok palu untuk dipakai sebagai pedoman hidup bermoral di tanah air.
Silang sengkarut soal pornografi dan pornoaksi ini telah menghangat sejak masih dalam tataran wacana, perumusan RUU (Rancangan Undang-undang) hingga aksi sosialisasi. Bahkan sampai saat ini, persoalan tersebut sebenarnya juga belum jelas alurnya. Jangankan soal kesepahaman materi undang-undangnya, soal batasan-batasan pengertian pornografi dan pornoaksi saja juga belum ada kata sepakat.
Masih terjadi tarik ulur soal terminologi ranah pornografi dan pornoaksi. Belum ada kesamaan visi antar satu manusia dengan manusia lainnya, antara budaya satu dengan budaya lainya dan antar satu daerah dengan daerah lainnya.
Belum adanya kesamaan pandangan, membuat pengertian pornoaksi dan pornografi yang diundang-undangkan menjadi sangat subjektif. Makna porno yang muncul menjadi bukan pengertian secara universal, namun pengertian orang per orang dan kelompok. Ujung-ujungnya, baik makna konotatif maupun denotatif porno menjadi bias.
Celakanya lagi, dalam beberapa kasus, pro kontra tentang persoalan ini mulai membelok kepada hal-hal yang agak sensitif. Ada pihak yang entah karena sengaja atau karena ketidakahuanya, mencoba-coba membalut persoalan dalam nuansa keagamaan. Padahal maksud dari RUU Antipornografi dan Pornoaksi adalah bukan untuk mengatur agama, melainkan budaya dan perilaku.
Berbicara tentang segala hal yang berkaitan dengan porno, tidaklah akan ada habisnya dan barangkali sulit untuk memberantasnya secara tuntas. Bukan bermaksud pesimistis, namun aksi porno yang ada sejak peradaban manusia lahir, seolah sudah menjadi perilaku yang mengakar.
Itulah sebabnya, tidak salah jika ada satu pendapat yang menyatakan bahwa yang kita butuhkan sekarang sebenarnya adalah penguatan moral. Bukannya aturan hukum baru yang belum tentu akan terpakai.
Sebagai negara yang multikultural, tentu nantinya akan dibutuhkan banyak pasal yang mengatur penerapan atau aplikasi dari RUU Antipornografi dan Pornoaksi ini. Asumsinya, apa yang diangap porno di suatu daerah, belum tentu juga berarti porno di daerah lain. Apalagi jika hal itu menyangkut budaya masing-masing daerah, tentunya akan membuat banyak catatan kaki dalam RUU tersebut.
Di Bali, wanita "mempertontonkan" payudaranya saat pergi ke sawah, barangkali merupakan hal yang lumrah. Demikian pula di kawasan pedesaan, kaum wanitanya mandi telanjang dengan memamerkan putingnya, juga merupakan hal yang wajar-wajar saja. Anehnya, ketika hal itu menjadi buku terbuka, jarang kita dengar kasus perkosaan terjadi di sana.
Sementara kalau kita mau jujur, melihat draft RUU yang sudah mulai digulirkan tahun 1999, namun tidak pernah selesai-selesai ini, menunjukkan ada masalah di sana.
Masalahnya apa saja? Sejak awal, persoalan ini dikawatirkan bisa memicu perpecahan bangsa. Belum adanya kesamaan pengertian pornografi -- jika undang-undang ini dipaksakan -- akan bisa mencederai psikologis masyarakat yang plural.
Masalah yang lain lagi, substansi dari undang-undang ini terlalu banyak merugikan kaum wanita. Menurut Jurnal Perempuan, RUU Antipornografi dan Pornoaksi yang sedang menanti giliran untuk disahkan tidak mengindahkan aspek-aspek keadilan bagi perempuan.
RUU Pornografi dan Pornoaksi dipandang justru melegalkan tindakan pelecehan seksual terhadap perempuan. Perempuan dalam RUU menjadi obyek yang harus diatur, karena dengan keberadaannya lah maka kehidupan ini dianggap diwarnai dengan tindakan pornografi dan pornoaksi.
Dengan demikian, untuk melihat soal pornografi maupun pornoaksi diperlukan sikap yang arif serta sikap kenegarawanan. Gunakan akal dan hati untuk melakukan pencegahan atau menghentikan mengkonsumsi pornografi. Karena esensi manusia yang sebenarnya adalah memang pada akal dan budinya, bukan kemolekan tubuhnya. ***


Ctt.

Mohon dicermati berita yang dilansir detikcom ini

Ancaman bagi Pasutri Simpan Blue Film

Jakarta - Salah satu yang dikhawatirkan oleh kubu penolak RUU Pornografi adalah: apakah pasutri yang menyimpan blue film akan terkena ranjau RUU Pornografi? Hal ini rupanya masih diperdebatkan anggota Panitia Kerja (Panja) RUU tersebut.
"Memang intervensi negara terlalu jauh karena terlalu masuk ke pribadi. Tapi ini masih dalam perdebatan," ujar anggota Panja RUU Pornografi Badriah Fayumi kepada detikcom, Selasa (23/9/2008).
Selain menyimpan blue film, menurut Badriah, salah satu contoh yang dilarang dalam RUU Pornografi yakni membuat pertunjukan yang mengesankan pornografi seperti iklan berbau seks, menampilkan persenggamaan, alat kelamin, persetubuhan yang melibatkan anak, dan telanjang bulat yang cabul.
"Kalau orang berangkulan dan berciuman itu biasa," katanya.
Menurut politisi PKB ini, RUU Pornografi lebih menekankan produksi, distribusi, konsumsi dan jasa pornografi. RUU tidak dimaksudkan sama sekali untuk memberangus kreativitas budaya lokal di Indonesia.
"Penerbitan baik yang ada SIUP-nya atau tidak serta penayangan baik melalui televisi, televisi kabel atau radio, yang berbau pornografi, itu yang dilarang. Urusan budaya sama sekali tidak ada eksploitasi," terang Badriah.
Rencananya, setelah tertunda disahkan pada 23 September, RUU akan disahkan pada Oktober 2008. "Itu nanti dibahas lagi. Yang terpenting bukan waktunya, tapi materinya," pungkasnya.
(nik/nrl)

Jumat, 2008 September 12

Politik Beras

Tong Kosong Nyaring Bunyinya
Padi Kosong Ramai Isunya


Oleh:
RHR Dodi Sarjana



PADI merunduk tandanya berisi. Namun jika sudah merunduk tak jua berisi, itu namanya super kopong. Ohh...nasibmu padi Super Toy HL2.


PENEMUAN padi Super Toy HL2, menjadi riak gelombang dalam perjalanan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama menjadi presiden ke-6 Republik Indonesia.
Seakan melengkapi kesialan SBY dengan Blue Energy-nya, Super Toy HL2 benar-benar super toy (baca: super mainan) bagi lawan politik SBY untuk memain-mainkan branding (figur) SBY menjelang Pemilu 2009.
Lawan politik presiden yang lemah lembut ini, sontak berebutan menorehkan tinta hitam tebal dalam agenda kerja harian mereka: SBY MUDAH DITIPU DAN GAGAL MENGENTAS KESENGSARAAN RAKYAT.
Kali pertama, "aksi' peduli kebutuhan rakyat SBY terantuk batu besar ketika dia dengan semangat merespon penemuan Blue Energy, bahan bakar berbasis air. Penemuan itu tak terbukti kebenarannya, bahkan berbau penipuan.
Kali kedua, presiden yang juga pencipta lagu ini direpotkan oleh temuan padi Super Toy, yang konon kabarnya produksinya mampu digenjot secara besar-besaran. Namun sayangnya, keampuhan padi tersebut tidak terbukti. Bahkan, padi Super Toy yang sempat dipanen Presiden 17 April 2008, memicu kemarahan petani karena pada panen kedua isinya kopong.
Jangan main-main dengan padi atau beras. Benda atau sebut saja barang yang satu ini cukup angker. Urusannya sangat erat terkait dengan urusan perut. Ketika perut lapar, kosong, dan tak ada lagi yang bisa dimakan, bisa menyulut aksi anarkis seseorang atau sekolompok orang.
Beruntung jika gara-gara perut kosong hanya berdemo saja. Bagaimana jika terjadi aksi brutal yang lebih mengerikan?
Dalam guliran roda sejarah kehidupan, persoalan pangan, tercatat seringkali menyebabkan tampuk pimpinan jebol. Longsor digerus rakyat yang gelap mata, gelap hati, dan gelap masa depan. Dalam sejarah nusantara, pada abad ke-16-18, kerajaan Mataram pernah mengalami pasang surut gara-gara kelangkaan pangan. Pada saat itu, penguasa sebenarnya sudah sadar betul untuk memanfaatkan beras sebagai komoditas politik.
Para raja yang berkuasa menyadari beras merupakan simbol stabilitas ekonomi dan politik. Jika terjadi masalah dengan produksi beras, pasti ada pula masalah dengan kekuasaan. Sebaliknya, kerajaan dan raja akan diagung-agungkan bila masalah beras bisa dikendalikan. Sayang, Mataram akhirnya gagal mengelola urusan beras. Tamatlah riwayatnya.
Di awal kelahiran Indonesia, politik beras juga berperan kuat. Presiden Soekarno yang banyak memotret penderitaan masyarakat, berani menyatakan menolak impor beras. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, subur tentrem kertorahajo (melimpah kekayaan alamnya dan subur serta aman tentram), bisa mencukupi pangan sendiri.
Momen yang sangat penting dalam kisah Presiden pertama RI ini, saat pertemuannya dengan petani bernama Kang Marhaen di Bandung selatan. Pertemuan itu makin menunjukkan keberpihakan Soekarno pada rakyat kecil. Nama Marhaen sendiri akhirnya dipakai oleh Soekarno untuk mencirikan petani Indonesia yang miskin tanpa tanah. Sayang, upaya pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sendiri, kala itu, masih banyak retorikanya. Aplikasinya masih kurang.
Sementara sejarah juga mencatat, Presiden kedua Soeharto akhirnya jatuh, saat harga beras melambung di tahun 1998. Lengkaplah sudah. Keangkeran beras menjadi semakin terkukuhkan. Keberadaannya mampu menentukan berlanjut tidaknya laju kepemimpinan seseorang.
***
SAMPAI saat ini, beras masih menjadi sarana ampuh untuk menarik simpati rakyat. Jauh sebelum SBY memanen padi Super Toy, oposisi pemerintah, PDI Perjuangan sudah lebih dulu mengembangkan jenis padi Mari Sejaheterakan Petani (MSP).
Saat Megawati (yang mantan Presiden dan putri Presiden Soekarno) mengkampanyekan PDIP, dibarengi dengan acara menanen beras MSP. Banyak warga yang hadir kemudian mengubah arti dari beras MSP ini dengan kepanjangan dari Megawati Soekarnoputri.
Jenis padi yang pertama kali ditemukan oleh warga Bogor bernama Surono Sunu ini, diyakini memiliki kelebihan dibanding varitas lain yang saat ini banyak ditanam petani. Padi jenis MSP, katanya, bulirnya lebih banyak dan nasinya lebih gurih. Hingga kini, belum ada petani yang mengeluhkan jenis padi ini.
Sebenarnya, lampu merah pengadaan beras, sudah lama menimpa tanah air kita. Gara-gara stok nasional semakin menipis, harga beras hampir di seluruh wilayah Indonesia seringkali mengalamai kenaikan yang cukup drastis.
Mencoba menelisik kelangkaan dan kenaikan harga beras, merupakan akumulasi kenaikan harga beras selama beberapa tahun terakhir. Dan ini, adalah buah simalakama politik beras. Impor beras diprotes, tidak impor harga naik, rakyat miskin pun bertambah.
Dalam beberapa kasus, impor beras sebenarnya adalah hal yang amat biasa. Jika stok yang dikuasai pemerintah menipis, harus impor untuk operasi pasar. Jika tidak, rakyat akan kelaparan. Tetapi, setiap kali pemerintah berniat mengimpor beras, selalu ada protes, bahkan DPR sempat hendak menggunakan hak angket dan hak interpelasi. Dalam hal ini, beras lalu bukan hanya jadi komoditas ekonomi, melainkan juga komoditas politik.
Itulah sebabnya, tidak terlalu aneh jika selama ini tak pernah ada pihak yang mempermasalahkan kemungkinan terjadinya korupsi dalam pengadaan beras. Seringkali aparat keamanan dan bea cukai telah menemukan bukti-bukti penyimpangan. Beberapa kapal tertangkap tangan membawa beras dari Thailand dan Vietnam, tanpa dokumen lengkap. Namun karena beras merupakan komoditas politik, maka penolakan impor selalu dikaitkan dengan nasib petani. Bukan dugaan adanya korupsi.
Selama ini pola pikir kita soal pangan memang masih subsisten. Artinya, menanam padi secara tradisional, untuk kepentingan keluarga sendiri. Untung atau rugi tidak masalah. Sistem pertanian modern, berupa lembaga petani, lembaga penyimpan data, lembaga pemberi kredit, dan lembaga asuransi, tidak pernah terbangun di Indonesia.
Menurut pengamat sosial-politik sekaligus penyair, F Rahardi, pola pikir itu mendasari pemikiran pemerintah dan para polisitisi kita. Mereka berpolitik dan memerintah negeri secara tradisional, untuk kepentingan "keluarga sendiri". Ketika Megawati menjadi presiden, para politisi Golkar paling sering berkomentar tentang kebijakan beras nasional. Belakangan, politisi PDI-P lebih gencar menentang impor beras. Itulah politik subsisten.
Ah......sudahlah. Mari kita putihkan saja persolan itu. Lebih baik mari kita pikirkan soal beras, soal pangan ini secara bersama-sama. Kalau perut tetap kosong keroncongan, kita tidak akan bisa memikirkan hal yang lebih besar lagi. Dunia makin mengglobal, modern, dan maju, kita jangan sampai tergilas olehnya.
Kenyangkan perut, pikirkan kehidupan lebih baik dan kembangkan teknologi.***

Catatan
* Konon kabarnya, Super Toy HL2 adalah singkatan penemu padi, yakni Supriyadi Toyong. Lha HL2-nya apa? Itu nama Heru Lelono, staf ahli Presiden SBY yang mentenarkan Blue Energy dan Super Toy HL2

Kamis, 2008 September 04

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang




Indahnya Coblosan di Bulan Puasa
Oleh:
RHR Dodi Sarjana


Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat.

MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat.
Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri.
Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru.
Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga membawa berkah yang lain. Di sepanjang bulan suci ini, di beberapa daerah bakal dan sedang menggelar acara demokrasi paling akbar. Warga di beberapa daerah sedang dan bakal memilih pemimpin baru mereka.
Dengan pemimpin baru nanti, siapa pun mereka yang terpilih (entah tokoh lama atau benar-benar baru), hidup baru juga akan dijalani warga yang sedang meretas proses demokrasi. Dengan pemimpin baru, tentu harapan kehidupan baru juga membersit di benak semua orang.
Di Sumatera Selatan, pertarungan untuk merebut kursi bermahkota tengah diperebutkan antara SOHE (Sjahrial Oesman-Helmy Yahya) melawan ALDY (Alex Noerdin-Eddy Yusuf). Ketenaran Helmy Yahya yang sering nongol di layar televisi dan branding-nya sebagai tokoh peduli orang susah (dalam acaranya bagi-bagi rezeki di tv) akan ditunggu tuahnya.
Di Lampung, saat ini juga tengah digelar pertarungan calon Gubernur. Ada tujuh pasangan yang sedang berpeluh dan berdaki untuk memperebutkan tempat terhormat di sana. Tidak ketinggalan pula di Bumi Lancang Kuning, Riau, juga tengah terjadi pergulatan calon Gubernur oleh tiga pasang "kekasih".
Untuk ranah Melayu, Riau, yang akan menggelar Pilkada 22 September 2008 nanti, kita semua berharap, pemimpin Riau di masa mendatang mampu memberikan kehidupan baru yang lebih nyaman dan aman. Jika ada kekurangan selama ini yang dirasakan masyarakat, diharapan nantinya semuanya bisa tertutupi dengan indah.
Saat-saat puasa tentu mengandung banyak jejak dan makna, baik dari sudut pandang spiritual maupun sosiokultural. Kita semua berharap dan berdoa, semoga pemilihan pemimpin di bulan suci ini, kelak juga mampu menciptakan suasana kehidupan yang penuh dengan rasa solidaritas sosial.
Ramadhan sebagai bulan suci mendaraskan ajaran kepada kita semua untuk menahan diri dari meluapnya rasa kebencian, kedengkian, pertikaian antarsesama manusia. Visi perdamaian dalam Ramadhan menuntut kita untuk menghindari sikap permusuhan di antara sesama manusia. Karena itulah, tepat jika ketiga calon pasangan pemimpin Riau, Kamis (4/9) sore kemarin, berikrar untuk melakukan kampanye damai.
Pasangan CS (Chaidir-Suryadi), RZ-MM (Rusli Zainal-Mambang Mit), dan Tampan (Thamsir Rahman- Taufan Andoso) sepakat melaksanakan kampanye sejuk, aman, damai, sopan, tertib, edukatif dan mengendalikan pendukungnya agar tidak anarkis.
Mereka juga bertekad mewujudkan pemilihan dengan asas langsung, umum, rahasia, jujur, adil, damai, dan demokratis, selain juga berjanji untuk bersikap kasatria menerima kekelahan.
Memang pesan substansial dalam ajaran Ramadhan adalah menciptakan perdamaian sejati, bukannya memperbanyak perselisihan, dan pertikaian. Perdamaian sejati harus menjadi paradigma fundamental dalam pergaulan antarsesama umat manusia meski berbeda kelompok, organisasi, suku, bangsa, dan agama.
Perdamaian merupakan cita-cita bersama umat manusia. Tidak hanya dalam masa kampanye Pilkada saja, namun cita-cita itu tetap harus digelar terus sepanjang kehidupan di tanah Riau ini. Dan cita-cita itu dapat terwujud jika umat manusia memiliki kesadaran tentang toleransi dan adanya keadilan (kesetaraan) dalam kehidupan sosial.
Di bulan suci Ramadhan ini, kita semua dituntut untuk selalu memaknai perdamaian dalam konteksnya yang paling aktual agar tidak sekadar menjadi perilaku simbolik, tetapi benar-benar substansial, yaitu untuk ibadah dan kedamaian.
Dengan melakukan kampanye damai di bulan puasa, kita diharapkan mampu melihat dan mampu menggerakkan seluruh potensi warga menuju Riau baru, dengan tatanan masyarakat madani yang etis, demokratis, egaliterian, dan sesuai kehendak Ilahi yang harmonis.
Karenanya, mari kita jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk bebenah diri, introspeksi, cooling down, kontemplasi, dan merefleksi diri, baik sebagai individu yang lemah di hadapan Tuhan maupun sebagai rakyat yang sedang bertaruh demi masa depannya ***


INDAHNYA KALAU BERDAMAI - Para calon Gubernur Riau dan wakilnya (ki-ka:CS, RZ-MM, TAMPAN), sedang berikrar damai dan siap menerima kekelahan secara ksatria. Duuh....betapa indahnya dunia jika jalinan kebangsaan dilandasi sikap legawa seperti ini. Jangan ada dendam di hatimu ya! FOTO: Dody Vladimir

Kamis, 2008 Agustus 21

Menjual Diri

thx to romo putra dion atas kiriman fotonya

SBY Beriklan, Semua Beriklan, Kita Bagaimana?
Oleh:
RHR Dodi Sarjana



YOU are what your dress. "Pakaian" pada hakikatnya membungkus watak seseorang. Dan kemasan pada ghalibnya menyiratkan kualitas produk yang dikandungnya.

PERSOALAN kemas-mengemas diri, akhir-akhir ini tidak hanya menjadi monopoli dunia bisnis saja. Kegiatan yang biasanya dilakukan para pengusaha itu, kini juga menjadi tren di kalangan pejabat, politisi, tokoh, dan orang awam yang ingin menjadi tokoh. Semua pasti mahfum, bahwa itu semua gara-gara, saat ini, mendekati masa-masa unjuk diri menjelang Pemilu 2009.
Tidak hanya yang akan mencalonkan diri jadi presiden yang "beredar" di relung-relung hati masyarakat Indonesia, yang berkehendak menjadi calon legislatif (caleg) pun juga berbondong- bondong mempercantik penampilan agar pas dan pantes di hadapan rakyat yang akan diwakilinya.
Jika sang pengusaha atau produsen mempercantik produk barunya dengan kemasan yang aduhai agar eye chatcing dan bisa bersaing dengan produk lama yang terlanjur dikenal konsumen, maka yang akan mencalonkan menjadi pemimpin dan politisi pun juga perlu berbenah diri. Lahir-batin.
Genderang masa kampanye belum terdengar ditabuh, bendera start pun belum dikibaskan, namun masa kampanye sepertinya sudah memasuki saat-saat pemanasan. Tidak hanya di media out door (baliho, spanduk, umbul-umbul dan lain sebagainya), di media cetak dan elektronik, partai peserta pemilu, para caleg dan tokoh calon presiden sering menampakan batang hidungnya.
Perang promosi jati diri sedang gencar dilakukan. Dalam tayangan televisi, tokoh-tokoh seperti Sutrisno Bachir, Prabowo Subianto, Rizal Malarangreng, Sutiyoso dan tokoh-tokoh lainnya rajin mengunjungi pemirsa.
Sapaan bertema persahabatan, persatuan dan menjaga sikap nasionalisme selalu mereka dengungkan. Tak jarang tayangan mereka seolah tampilan kisah film yang menyaingi kisah-kisah sinetron di televisi.
Bagi mereka, gencarnya promosi diri merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja. Karena sepanjang usia republik ini, kiprah mereka belum melekat benar di pelupuk mata bangsa kita. Barangkali hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang mengenal mereka. Karenanya secara "sadar" mereka harus berani tampil bak artis film atau sinetron yang rajin mengunjungi penggemarnya.
Dalam tampilan mereka, para tokoh tersebut tampak berusaha keras untuk mencitrakan diri sebagai orang yang peduli akan nasib orang kecil. Nasib warga kebanyakan yang ada di bumi pertiwi ini.
Selama ini, sikap mereka yang peduli akan kehidupan rakyat cilik memang belum teruji benar. Barangkali, meski sudah ada hal-hal kecil yang mereka lakukan, namun perbuatan itu masih kental sebagai wacana belaka. Indikasi yang paling gampang untuk mengukur hal itu adalah, sampai saat ini, sepertinya belum pernah ada lembaga yang memberi mereka penghargaan atas perhatian mereka kepada kehidupan kaum papa.
Untuk itulah mereka memang harus banting tulang mengemas diri seperti yang mereka tampilkan saat ini di media elektronik dan cetak. Mereka yakin, ketika sosok "penuh perhatian" yang mereka citrakan melekat di mata dan hati rakyat penikmat televisi, diharapkan itu akan membenam dalam impian bawah sadar rakyat, yang pada gilirannya nanti (saat pemilu) akan muncul dan menjelma menjadi keputusan untuk memilih calon mereka. Siapa calon itu? Tentunya para tokoh yang mampu membidikan "panah cinta" ke jantung hati pemirsa televisi.
***
Fenomena tampil di media, semakin hari semakin mengental. Bahkan "virus" itu menulari Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), yang sebenarnya sudah terkenal hingga ke pelosok-pelosok negeri. Takutkah SBY tersaingi populeritasnya oleh Sutrisno, oleh Prabowo, atau oleh pendatang baru Rizal yang nota bene adik kandung juru bicara presiden, Andi Malarangreng?
Kita boleh berpendapat dan mengomentari penampilan presiden. Pengamat juga berhak untuk memberikan kajiannya. Namun alasan yang benar-benar menjadi alasan kemunculan presiden, tentulah presiden dan tim-nya sendiri yang mengetahui secara pasti.
Dugaan sementara, kehadiran sosok SBY dalam berbagai format iklan Partai Demokrat (PD) di media massa cetak dan elektronik, dimaksudkan sebagai pemanasan untuk pencalonannya kembali dalam Pilpres 2009. Betulkah?
Untuk sementara (pula) rasa penasaran kita diobati oleh seteguk jawaban Ketua PD Andi Mallarangeng yang juga juru bicara SBY. "Itu iklan PD, bukan iklan SBY. Untuk pencalonannya kembali, beliau masih menunggu saat yang tepat," ujar Andi.
Beberapa partai politik kontestan Pemilu 2009 memang juga membuat iklan serupa. Di dalam iklan tersebut juga tampil ketua umum atau para petinggi dari partai bersangkutan. Partai Demokrat beranggapan, jika parpol lain menampilkan ketua umum, maka PD juga menampilkan (SBY) sang ketua dewan pembina.
Namun ada hal menarik dalam tayangan iklan PD. Iklan tersebut memuat Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1957 silam dan "jawaban" pidato dari SBY pada 16 Agustus 2008.
Pidato presiden pertama RI berisi keprihatinannya terhadap kondisi bangsa. "Akan tenggelamkah kita, saudara-saudaraku? Akankah Indonesia mulai runtuh dan ambruk?"
Sementara di bagian bawahnya, disambung pidato SBY dengan judul "Tidak" dalam ukuran besar. "Hari ini, kita bersama-sama menyaksikan negara kita, Indonesia masih tetap tegak berdiri dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Marilah kita buktikan, 10 tahun, 50 tahun dari sekarang ini, bahkan sampai kapan pun, Insya Allah, Negara kita bukan hanya tetap tegak berdiri, tetapi juga akan semakin maju dan sejahtera," demikian pidato SBY.
Pidato SBY dimaksudkan untuk menjawab kekhawatiran akan terjadinya perpecahan pada bangsa Indonesia. Indonesia saat ini, dinilai sudah jauh lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Menurut sang pembuat iklan, tidak ada presiden Indonesia yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan bangsa selain SBY. Contohnya, saat ini konflik Aceh, Poso, Papua, sudah reda semua.
Namun tentunya bukan hanya soal redanya konflik saja yang menjadi harapan kita bersama. Bagaimana memajukan dan mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhann lah yang menjadi impian kita bersama.
Tapi...nggomong-omong, Anda juga mulai tertarik membangun citra diri kah? Buruan deh, mumpung musim tabur mimpi masih berlangsung. ***


----------------------------------------

* Catatan tambahan

Iklan dibalas dengan Iklan: Mungkinkah Sebaran foto bareng SBY dengan ratu suap Artalyta Suryani yang kini tersebar di masyarakat luar merupakan tanggapan atau promosi tandingan diri presiden?


Sumber: Tribun Pekanbaru, Edisi Jumat (22/8/08)
Foto Bareng SBY-Artalyta Tersebar Luas
* Jaksa Urip Dituntut 15 Tahun

JAKARTA, TRIBUN - Permainan baru di gelanggang politik tampaknya tengah bergulir lagi.
Setelah beredar foto Kapolri Jendral Polisi Sutanto, kini Artalyta 'tertangkap basah' dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Artalyta foto bareng bersama orang nomor satu di republik ini pada saat berada di acara resepsi pernikahan keluarga besar Artalyta. Foto ini diyakini sebagai Presiden SBY bersama istrinya, Ani Yudhoyono bersamaan dengan kehadiran Kapolri Jendral Polisi Sutanto saat itu.
Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik, Anas Urbaningrum, Kamis (21/8) menyatakan, foto itu memang sengaja dikeluarkan dengan maksud untuk menurunkan citra Presiden SBY jelang Pemilu 2009. Anas tegas menyatakan, foto itu tak lain dari strategi black campaign dari lawan- lawan politik Presiden SBY yang kemungkinan akan mencalonkan kembali sebagai capres 2009.
Dua foto Presiden SBY bersama Artalyta itu pertama kali ada di beberapa milis. Foto yang pertama memperlihatkan Presiden SBY sedang bersalaman dengan Artalyta. Sementara foto yang kedua, Presiden SBY terlihat sedang berpose dengan pengantin.
"Boleh jadi, itu adalah kampanye hitam kepada Pak SBY. Maklum, sekarang ini kan jelang Pemilu 2009, jadi pasti ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan untuk mencoba menjatuhkan popularitas beliau," kata Anas Urbaningrum.
Juru Bicara kepresidenan Andi Mallarangeng juga mengomentari beredarnya foto Presiden SBY dengan penyuap Jaksa Urip Tri Gunawan, Artalyta Suryani. Andi dengan bahasa diplomatis menyatakan, siapapun apalagi seorang preisden, tentu kenal dengan siapa saja.
"Siapa saja orang dalam satu acara, presiden bisa saja kenal banyak orang dan hubungan-hubungan sosial yang segala macam, tapi presiden tidak bisa seperti saya, Anda dan semua orang, tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan orang yang Anda kenal atau tidak kenal atau siapapun," kilah Andi Mallarangeng saat ditemui di Wisma Negara (........selengkapnya juga bisa Anda baca di: www.tribunpekanbaru.com)